Sejarah dan asal-usul Pangkalan Balai - JALUR INFORMASI

3.3.21

Sejarah dan asal-usul Pangkalan Balai

Kali ini kita akan membahas mengenai bagaimana Sejarah dan juga asal-usul dari nama Pangkalan Balai ?


Pangkalan Balai merupakan ibukota dari Kabupaten Banyuasin yang merupakan wilayah pemekaran dari Musi Banyuasin sejak tahun 2002. Ternyata nama pangkalanbalai ini memiliki sejarah dan juga asal-usul yang menarik untuk dibahas dan merupakan cerita rakyat di Kabupaten Banyuasin. 

Berikut ini adalah sejarah dan juga asal-usul dari nama Pangkalan Balai Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan berdasarkan mitos dan juga cerita dari rakyat Banyuasin. 


asal usul dan sejarah pangkalan balai

Sejarah awal Munculnya Pemukiman

Sebelum dikenal dengan nama Pangkalan Balai ternyata dahulu wilayah ini terdapat sebuah perkampungan yang bernama Talang gelumbang. Dan di kampung Talang gelombang tersebut eh Pada awalnya hanya terdapat 7 rumah serta beberapa keluarga Yang dipimpin oleh tiga tokoh masyarakat. 

Ketiga tokoh itu yaitu puyang beremban besi (Sosok Pahlawan) yang merupakan penduduk asli setempat dan memiliki kekuatan seperti kebal terhadap berbagai macam senjata tajam. 

Kemudian ada bujang merawan yaitu selaku pemimpin pemerintahan di sana. Selanjutnya ada ada cahaya bintang selaku pemimpin adat adat. 

Dari ketiga tokoh tadi salah satunya berasal dari Cirebon, dan merupakan anak dari Mangkubumi kesultanan Cirebon. Seiring dengan berjalannya waktu wilayah yang bernama Talang gelombang ini terus berkembang dan satu persatu rumah dibangun dan jadilah sebuah perkampungan yang ramai. 

Dan mata pencaharian masyarakat di sana adalah dengan bercocok tanam dan sebagiannya adalah seorang nelayan. Penduduk di sana hidup dengan keadaan yang rukun dan juga damai hingga akhirnya memasuki tahun 1600-an datanglah seseorang yang tidak dikenal menggunakan kapal layar bernama Tuan Bangsali. 

Iya dipercaya merupakan seorang ulama yang menyebarkan agama Islam di sana dan sedikit demi sedikit mulai berkembang dan menjadi agama mayoritas di perkampungan tersebut ruang Bangsal ini memilih Thalib Wali sebagai sosok dari orang yang dipercaya nggak membuat Desa ini semakin berkembang lagi hingga terbentuklah Desa baru yang bernama Napal. 

Desa napal ini Kemudian mereka membangun perkampungan hingga balai desa yang cukup besar hingga dibuat juga sebuah pangkalan guna untuk berlabuhnya para pedagang yang datang. Nama pangkalan ini adalah pangkalan napal atau pangkalan bangsali. 

Setelah cukup lama berkembang kemudian kabar mengejutkan datang dari puyang baramban besi yang kemudian wafat, namun sebelum dia wafat beliau telah berwasiat agar dimakamkan di sebelah Hilir kampung tersebut. 

Dan Seiring berjalannya waktu 2 pemimpin lainnya pun seperti bujang marawanan juga cahaya bintang akhirnya mengundurkan dari pemerintahan karena sudah lanjut usia dan sering sakit-sakitan. 

Kemudian kepemimpinan pun diambil alih oleh Thalib Wali, ia pun kemudian menunjuk 2 orang sebagai kepala pemerintahan baru yaitu puyau Rantau Pandodo untuk duduk sebagai kepala pemerintahan dan juga Muning Cana sebagai orang yang gagah berani atau sosok yang disegani. 

BACA JUGA :Kawasan Tilang Eletronik di Palembang

Namun sayangnya saat itu kondisi di perkampungan tersebut tidak sesuai dengan harapan sehingga dilakukan sebuah musyawarah antara penduduk di sana untuk memilih wakil-wakil nah setelah musyawarah tersebut selesai maka didapatlah sebuah kesepakatan untuk menunjuk ngunang sebagai kerio di desa tersebut. 

Sedangkan Thalib Wali ditetapkan menjadi khotib serta pencatat nikah, rujuk hingga mengurus kelahiran dan juga kematian atas penduduk di di perkampungan tersebut. 

Dan hal tersebut ternyata berjalan dengan baik hingga beberapa tahun kemudian Tuan Bangsali bertemu dengan beberapa orang yang pandai ilmu dalam agama Islam mereka adalah Thalib Wali dan juga Dul kemudian tuan bangsali mengajak mereka berdua untuk pergi haji menggunakan perahu layar. 

Hingga Setahun kemudian mereka kembali ke perkampungan tersebut dan membawa bibit tanaman yang bernama serumpun pohon Poejenggih dan juga Serumpun pohon beringin nyusang. Sedangkan Dul ia membawa bibit dari Serumpun Maje. 

Perkembangan Yang Semakin Pesat

40 tahun kemudian karena perkembangan Dusun yang semakin pesat maka dipilihlah seorang pasir atau tempati oleh susuhan raja-raja palembang yang berkedudukan di Dusun Limau. 

Menurut kisahnya dusun Limau ini dibuat oleh anak dalam Muara bangkahulu yaitu rhizobium yang merupakan seorang anak dari Mangkubumi yang berasal dari Majapahit.

Karena pada masa itu Majapahit sedang mengalami keruntuhan sehingga membuat kelima yaitu Mangkubumi melarikan diri ke wilayah Sumatera, hingga melahirkan beberapa nama yang ada di Sumatera Selatan yaitu sumsang.

Yang merupakan tempat pelarian dari Ratu sinuhun, yang kedua di daerah Limau yaitu Rio Bayung, ada Betung yang bernama Rima demam dan dua orang lagi wanita di wilayah abab Penukal atau air hitam. 

Dikarenakan sejak dahulu di setiap perkampungan harus memiliki seorang khotib yang memiliki tugas untuk mencatat setiap pernikahan, kematian hingga persedekahan rakyat namun karena wilayah dari dusun 5 ini cukup sulit untuk dijangkau maka dipindahkan lah pemerintahan ke wilayah Dusun Galang tinggi. 

Menurut ceritanya Desa ini dibuat oleh Si Pahit Lidah. Dan setelah dilakukan musyawarah terpilihlah seorang Depati Jeumpa sebagai Depati pertama di Dusun Galang tinggi. Dan setelah 5 tahun memimpin Ia pun meninggal dan digantikan oleh Depati renyab. 

Dan disusun tersebut ternyata terdapat seorang yang memiliki ilmu yang sangat Sakti mandraguna karena apa yang ia Sebutkan akan terwujud sosok tersebut bernama Si Pahit Lidah. Hingga akhirnya kekuasaan di desa ini pun dipimpin oleh mentadi. Dan selama 4 tahun memimpin terjadilah kemarau panjang selama hampir 9 bulan. 

Hingga ketika ia ingin membuka lahan ia tanpa sengaja membakar ladangnya sendiri hingga api itu pun menyebar luas hingga membakar hutan yang ada di perkampungan di sekitarnya. 

Akibat peristiwa mengerikan tersebut dipati mentadi akhirnya dijatuhi hukuman selama kurang lebih 3 tahun penjara dan diberhentikan menjadi Depati. 

Hingga akhirnya hakim pun memberikan keringanan dan mengurangi masa tahanan dari Mentadi tersebut menjadi 1 tahun saja. Dan saat itu kepemimpinan pendidikan dikuasai oleh betia sebagai Depati dan beliau mendapatkan gelar sebagai Depati bungkuk. 

Pada masa ini wilayah di Palembang sudah dikuasai oleh pemerintah kolonial Belanda hingga akhirnya Dipati buku ini pun berhenti dan memutuskan untuk memilih kembali Depati Mentadi. 

Hingga akhirnya mereka pun mendapat kunjungan dari para pejabat pemerintah kolonial Belanda yang datang ke wilayah Dusun Tanjung Menang dan juga menanyakan Mengapa wilayah tersebut bernama Tanjung Menang dan pangkalannya dinamakan pangkalan bangsali? 

Kemudian Jelaskanlah Mengapa Dusun tersebut diberi nama demikian karena dahulu wilayah Tanjung Menang ini ini berhasil menghentikan peperangan melawan para bajak laut Sedangkan untuk nama pangkalan nya yaitu pangkalan bangsali diambil dari nama Tuan Bangsali.  Namun pemerintah dari kolonial Belanda ini tidak setuju dengan nama tersebut hingga mengganti nama tersebut menjadi Pangkalan Balai. 

Pangkalan Balai yang memiliki arti sebagai tempat berlabuh dan juga pertemuan-pertemuan penting dan nama tersebut bertahan hingga saat ini. Itulah tadi sekilas mengenai mitos dan juga cerita rakyat dari Banyuasin.

Mengenai asal-usul dan juga sejarah dari nama Pangkalan Balai, bagaimana menurutmu Apakah kalian percaya dengan cerita rakyat tersebut? Sampaikan pendapatmu di kolom komentar ya.

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda