Terlupakan, inilah I La Galigo Sebagai Karya sastra Asli Indonesia terpanjang - JALUR INFORMASI

7.3.21

Terlupakan, inilah I La Galigo Sebagai Karya sastra Asli Indonesia terpanjang

I Lagaligo sebuah karya sastra dan juga kitab suci asli masyarakat Bugis yang terpanjang, bahkan lebih panjang dari pada Epic India Mahabharata dan juga Ramayana serta Homerus dari Yunani.


karya sastra terpanjang di dunia


Karya sastra adalah sebuah ciptaan yang disampaikan dengan komunikatif yang memiliki maksud untuk tujuan estetika dan biasanya Ceritakan sebuah kisah dalam sudut pandang orang pertama maupun orang ketiga. Karya sastra ini berasal dari bahasa Sansekerta didalamnya.

Teks yang mengandung instruksi atau pedoman dan dari kata yang memiliki arti sebagai intruksi atau ajaran. Sedangkan dalam bahasa Indonesia sendiri kata ini biasanya digunakan kan dan mengacu kepada kesusastraan yang memiliki arti dan makna sebagai sesuatu keindahan tertentu. 

Di Indonesia ternyata terdapat sebuah karya sastra yang berasal dari Sulawesi Selatan dan telah ditulis Selama ratusan tahun silam. Karya sastra tersebut bernama di I La galigo yang didalamnya terdapat naskah yang memuat mengenai nilai-nilai kasih, kesetaraan gender penghormatan pada kelompok transgender. 

I La Galigo ini disebut-sebut karya sastra terpanjang yang ada di dunia dan telah diakui Unesco sejak tahun 2011 sebagai bagian dari ingatan kolektif dunia. Bahkan i La Galigo ini lebih panjang dari pada ada efek India yaitu Mahabarata dan juga kisah Ramayana. 

I Lagaligo ini tidak sepopuler karya sastra tersebut terutama di Indonesia padahal bagi masyarakat Bugis yang menganut agama lokal yaitu kepercayaan tolotang i Lagaligo ini sudah dianggap sebagai kitab suci mereka. 


Hal ini dikarenakan masyarakat Bugis percaya bahwa apa yang tertuang dalam Kitab tersebut Dianggap benar-benar terjadi atau nyata sehingga bagi orang yang ingin membacanya khususnya para penganut agama tersebut harus melakukan ritual terlebih dahulu yaitu dengan melakukan persembahan, sesaji, dupa, pemotongan ayam ataupun kambing. 

I La Galigo ini berbentuk puisi epik dan pada awalnya hanya berupa tutur lisan saja. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan memasuki paruh pertama abad ke 19 M, karya ini kemudian mulai ditulis dan berbentuk puisi tradisional Bugis atau yang dikenal sebagai lontara. Komposisi dari penulisan yang ini dianggap indah serta memiliki kualitas kesusastraan tinggi. 

Dan dalam tradisinya untuk pembacaan ilagaligo ini dilakukan sembari bernyanyi dan cara bernyanyi tersebut dinamakan sebagai bagai Laoang atau Selleang. Dan biasanya hanya dilakukan pada acara besar seperti upacara adat. 


Namun Sayangnya pada saat ini i Lagaligo ini semakin Terlupakan hal ini juga sejalan dengan pudarnya pengetahuan masyarakat perihal teks-teks kuno bugis dan juga rendahnya tingkat penguasaan masyarakat terhadap aksara lontara sehingga membuat keberadaan karya sastra yang telah diakui dunia ini semakin mengkhawatirkan. 

Hal ini tidak terlepas juga karena proses dari pelestarian naskah lontara dan Lagaligo itu cenderung hanya bisa dilakukan oleh keberadaan bissu yang mengembang sebagai fungsi kependetaan agama lokal masyarakat Bugis yang semakin terpinggirkan. 

Sehingga pemerintahan Indonesia berusaha untuk mengantisipasi hilangnya Khasanah kuno ini sebagai upaya pelestarian budaya Bugis secara eksklusif sehingga i Lagaligo ini didaftarkan sebagai World Heritage di Unesco dan diakui sejak tahun 2011 sebagai Memory of the world. 

Sejarah awal, isi dan makna dari Lagaligo 


Menurut deskripsi yang telah dilakukan penelitian dari UNESCO dipercayai Lagaligo ini sudah ada sejak abad ke-14 bahkan ada yang menduga usianya jauh lebih tua dari. Meskipun ilagaligo ini tidak termasuk dalam teks sejarah namun dari aspek mitologis narasi pada ilagaligo itu terasa sangat kental dan diakui oleh banyak ilmuwan memiliki pengaruh yang besar terutama untuk melihat masa lalu peradaban masyarakat Bugis di era masuknya agama Islam. 

Dalam penulisannya i La Galigo ini berbentuk format puisi Bahasa Bugis kuno yang berupa sajak bersuku 5 dan menceritakan kisah dari asal-usul manusia. Sehingga i Lagaligo ini bercorak pra Islam dan bersifat epik mitologis. 

Terdapat tokoh utama dalam kisah La Galigo ini kapal tersebut adalah Sawerigading yang merupakan cucu dari Batara Guru yang dimulai dari cerita dunia yang kosong dan menyebabkan turunnya Batara Guru ke bumi. 


Manusia pertama tersebut turun di daerah Luwu di utara Teluk Bone. Di sana batara Guru berkuasa sebagai raja dan kemudian ia digantikan oleh anaknya yaitu La Tiueleng dan memiliki gelar Batara lattu. 

Kemudian dia memiliki anak kembar yang bernama Sawerigading dan juga we tenriabeng. Yang kemudian mereka dibesarkan secara terpisah dan di pertemukan kembali sejak usia dewasa namun seiring Aning terpesona dan jatuh hati pada saudara kembarnya tersebut sehingga ia berniat untuk menikahi saudara kembarnya yaitu We Tenriabeng. 

Namun hal tersebut dilarang karena dipercaya menikah dengan saudara akan menyebabkan malapetaka sehingga kasih yang tak sampai ini kemudian menghantarkan saweri Gading untuk pergi ke negeri Cina dan di sanalah ia kemudian bertemu dengan Putri yang wajahnya Sama persis dengan saudara kembarnya tersebut. Putri tersebut bernama We Cudaiq. Yang merupakan anak seorang raja di daratan Cina tersebut hingga kemudian mereka melahirkan anak laki-laki yang diberi nama lagaligo. 


Kemudian Setelah beberapa lama tinggal di daratan China tersebut akan kembali ke kampung halamannya namun sayangnya Di tengah perjalanan kapal yang dinahkodai nya pun akhirnya karam sehingga menyebabkan mereka k-pop turun ke dunia bawah sedangkan saudara kembarnya when tenriabeng telah lebih dulu Naik ke alam Dewa atau dunia atas. Namun tidak dengan Lagaligo dan beberapa saudara lainnya tetap tinggal di bumi dan menjadi penguasa dari Luwuk. 

Beberapa cuplikan di atas dianggap mentereng karena menjadi teks kesusastraan yang populer dari segi isi dan juga cerita tata cara penulisannya yang memiliki aturan sastra yang ketat yang terdiri dari norma, konsep, kehidupan, budaya, isilah, dewa-dewa dan juga asal usul dari masyarakat Bugis tersebut. 

Terdapat berbagai versi Lagaligo 


Karya sastra La Galigo ini ditemukan dari berbagai versi cerita serpihan yang ditemukan di luar Sulawesi Selatan seperti di Sulawesi Tengah, tenggara, gorontalo, kelantan bahkan wilayah Terengganu yaitu Semenanjung Melayu dan beberapa wilayah lainnya. Bahkan saat ini text dari i La Galigo ini bersebaran di berbagai wilayah yang ada di dunia. 


Dan berapa apa budaya yang ada di Lagaligo ini masih dilakukan dalam kehidupan masyarakat Bugis sehari-hari setidaknya dalam acara Anda. Contohnya seperti ritual mapaliliqi bahkan ada juga masyarakat Bugis yang masih menganut kepercayaan tolotang dan menganggap dirinya sebagai pewaris spiritual Bugis dan penyiku dari Sawerigading. 

Masuknya Islam dan intelektual I lagaligo 


Seiring dengan masuknya agama Islam i La Galigo ini cara bersusun secara interekstual hal ini terlihat dar unsur islam yang terdapat seperti ti bentuk formula doa berbahasa Arab, ayat Alquran, tiga nama Asmaul Husna. Namun menariknya masuknya unsur Islam tersebut tidak serta merta menggeser kepercayaan lama mainkan disajikan secara berdampingan sehingga menambah kesan kaya akan makna yang terdapat dari sastra lagilago tersebut. 

Ini lagi lagu ini menjadi perhatian masyarakat dunia ketika Robert Wilson yaitu seorang sutradara avant Garde yang terkenal dari Amerika al, Ia yang membawa teks ini ke panggung teater Internasional yang pertama kali pentas di Singapura pada 20 hingga 23 Maret tahun 2004.

Selang 2 bulan kemudian diadakanlah beberapa beberapa pertunjukan lain di Eropa seperti di Amsterdam pada 12 hingga 15 Mei 2004, di Madrid 30 Mei hingga 2 Juni 2004, di Perancis pada 8 hingga 10 Juni tahun 2004 dan berakhir di ravenna Italia pada 18 hingga 20 Juni 2004. 

Tinggal dilanjutkan di beberapa negara lain selang beberapa tahun kemudian 3 dilakukan di Jakarta pada 10 hingga 12 Desember tahun 2006. Dan setelah melanglang buana akhirnya Lagaligo ini kembali dibawa pulang dan dipentaskan kembali di tanah kelahirannya 

yaitu Makassar pada 23 hingga 24 April 2011. Dan pada tahun-tahun tersebut uNESCO akhirnya menetapkan Lagaligo sebagai Memory of the world dan dalam bentuk pustaka dokumenter atau documentary heritage. 

Selain penuh akan makna daya tarik dari Lagaligo ini memiliki keseluruhan teks yang sangatlah besar dan diperkirakan terdiri dari 6000 halaman atau 300.000 puisi. Dari UNESCO menggaris bawahi bahwa I La Galigo sebagai karya sastra paling produktif yang ada di dunia dan merupakan yang terpanjang di dunia. 

Nah itulah tadi sedikit informasi mengenai La Galigo semoga informasi ini bisa menambah wawasan serta kecintaan kita terhadap budaya yang ada di nusantara sehingga jangan sampai kita menyesal saat nanti diakui oleh eh bangsa asing. Jika kalian merasa materi ini bermanfaat jangan lupa untuk share agar bermanfaat juga bagi orang lain.

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda